Sabtu, 06 Agustus 2011

Resident Evil Afterlife



Melanjutkan Resident Evil: Apocalypse, T-Virus yang telah menyebar ke seluruh penjuru wilayah dunia membuat dunia menjadi tempat yang sangat tidak aman untuk ditempati. Lewat sebuah siaran yang dipancarkan melalui frekuensi radio, Alice mendengar bahwa terdapat sebuah tempat bernama Arcadia yang bebas dari infeksi virus mematikan tersebut. Alice, yang mengira bahwa tempat tersebut berada di wilayah Alaska, akhirnya berangkat ke daerah tersebut sekaligus untuk menyusul rombongan Claire Redfield (Ali Larter) yang telah terlebih dahulu pergi ke wilayah tersebut. Sialnya, Arcadia yang ia temui tak berbeda dengan wilayah lain di dunia yang telah terinfeksi. Tanpa kehidupan sama sekali. Ia malah bertemu dengan Claire yang kini menderita amnesia dan sama sekali tidak mengingat apa-apa mengenai dirinya maupun apa yang terjadi pada dirinya.

Bersama dengan Claire, Alice terbang ke Los Angeles dimana ia bertemu dengan sekelompok orang yang menggunakan sebuah penjara sebagai tempat melindungi diri mereka. Dari mereka pula, Alice mengetahui bahwa Arcadia bukanlah sebuah tempat di Alaska, melainkan sebuah kapal pesiar yang disediakan khusus untuk menampung manusia yang masih belum tercemar oleh T-Virus. Akibat serangan zombie, satu persatu anggota kelompok tersebut tewas menyisakan Chris (Wentworth Miller), yang ternyata merupakan kakak dari Claire. Bertiga, mereka menuju Arcadia, tempat yang ternyata merupakan sebuah jebakan dimana Albert Wesker (Shawn Roberts), pimpinan dari Umbrella Corporation, telah menunggu untuk melenyapkan mereka.

Menggunakan teknologi Fusion Camera System yang dikembangkan oleh James Cameron selama proses pengambilan gambarnya, harus diakui teknologi 3D yang diumbar oleh Resident Evil: Afterlife sangat berhasil memberikan kesan tersendiri kepada para penontonnya, khususnya pada adegan-adegan action dan slow motion yang memang dilakukan untuk memanfaatkan teknologi tersebut. Begitu berhasilnya terapan 3D tersebut, teknologi tersebut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari jalan cerita Resident Evil: Afterlife, hingga dipastikan bagi mereka yang menonton film ini dengan teknologi 2D, tidak akan mendapatkan kesan apapun yang diakibatkan jalan cerita film ini yang seperti hanya menjadi pengulangan dari jalan cerita seri-seri sebelumnya.

Dipenuhi oleh banyak adegan tembakan, ledakan, darah dan berbagai adegan action lainnya, sangatlah mudah untuk mengatakan bahwa Resident Evil: Afterlife adalah sebuah film yang lebih mengutamakan style daripada substance film yang sebenarnya. Walau tidak berada di kursi sutradara pada seri kedua dan ketiga, Anderson tidaklah kesulitan untuk meneruskan ritme dan alur cerita film ini, yang memang sepertinya hanya menggunakan formula yang sama dan menambahkannya dengan beberapa elemen yang tidak berpengaruh banyak pada film ini secara keseluruhan. Bukan sebuah hal yang buruk sebenarnya jika memang Anda merupakan penggemar franchise ini. Namun mereka yang bukan seorang penggemar mungkin akan merasa bosan melihat sajian yang sama diulang secara terus menerus.

0 Comment's:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...